
Ketika seorang pria memikirkan pernikahan, ia sering memikirkan jenis istri apa yang dia inginkan. Lebih jarang dia memikirkan jenis suami apa yang seharusnya dia jadilah. Namun Islam menentukan kewajiban suami dengan sejelasnya seperti menentukan kewajiban istri.
Tanggung jawab ini bukan hanya masalah etika. Seorang pria akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka di hadapan Allah.
Nafkah Bukan Bentuk Kebaikan
Dalam Islam, memberi nafkah kepada istri adalah fard (wajib). Meskipun dia menghasilkan lebih banyak dari suaminya, hartanya milik dia sendiri. Suami tidak memiliki hak untuk menuntut dia menghabiskan hartanya untuk keluarga.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki itu pemimpin bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (Surah An-Nisa, 4:34)
Makanan, pakaian, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan semuanya adalah tanggung jawab suami. Standar harus sesuai dengan kemampuannya dan norma yang berlaku di masyarakat.
Mahar Adalah Harta Istri, Bukan Formalitas
Banyak orang menganggap mahar sebagai ritual simbolis. Pada kenyataannya, itu adalah harta sah milik istri. Dia memiliki hak untuk menggunakannya sesuka hatinya: menyimpannya, membelanjakannya, menabungnya, atau memberikannya.
Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan:
"Berikan kepada perempuan (yang kamu nikahi) mahar mereka dengan sepenuh hati." (Surah An-Nisa, 4:4)
Hak istri atas mahar tidak otomatis gugur bahkan dalam kasus perceraian, tergantung dari keadaannya.
Bagaimana Suami Memperlakukan Istrinya Mencerminkan Imannya
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah mereka yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah mereka yang paling baik kepada istri-istri mereka." (At-Tirmidhi)
Cara seorang pria berbicara kepada istrinya di rumah, ketika tidak ada orang lain yang mendengar, adalah bagian dari imannya.
Al-Qur'an menggambarkan pernikahan sebagai sumber ketenangan:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia menciptakan untuk kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan di antara kamu rasa kasih sayang dan belas kasihan." (Surah Ar-Rum, 30:21)
Di mana tidak ada kasih sayang maupun belas kasihan, tidak mungkin ada ketenangan sejati.
Kehormatan Istri Berada Dalam Perlindungan Suaminya
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Allah tidak akan memasukkan surga seorang laki-laki yang abai terhadap mereka yang mengganggu privasi dan kehormatan istrinya."
Ini bukan hanya tentang orang asing. Ini juga berarti tidak membicarakan istri dengan teman-teman dan tidak mengungkapkan rincian pribadi kehidupan keluarga. Nabi Muhammad ﷺ melarang pasangan suami istri untuk membongkar rahasia intim mereka:
"Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang telah berhubungan intim dengan istrinya, lalu salah seorang di antara mereka membongkar rahasia yang lain." (Muslim)
Talaq Bukan Alat Tekanan
Salah satu pola paling merusak dalam pernikahan adalah mengancam cerai setiap kali ada konflik. Islam memandangnya secara berbeda.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Di antara semua hal yang halal, talaq adalah yang paling dibenci oleh Allah." (Abu Dawud, Ibn Majah)
Talaq adalah jalan terakhir, bukan senjata. Ia memerlukan pertimbangan matang, bukan ledakan amarah.
Banyak pria Muslim hari ini mencari pasangan melalui Zawajy, platform di mana perkenalan terjadi dengan melibatkan wali dan dalam batas-batas Syariah. Jika Anda sedang mempersiapkan diri untuk menemukan istri, tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan yang jujur terlebih dahulu:
"Apakah saya siap memenuhi apa yang Allah tempatkan atas seorang suami?"
Pernikahan Adalah Amanah
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka yang berada di bawah asuhannya." (Al-Bukhari)
Islam disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada pasangan yang hanya memiliki kewajiban. Allah berfirman:
"Dan perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut." (Surah Al-Baqarah, 2:228)
Seorang suami bukan sekadar orang yang menghasilkan uang. Dia adalah seseorang yang memegang tanggung jawab — tanggung jawab untuk nafkah, perlakuan, kehormatan, dan suasana spiritual di rumah.
Ringkasan: Kewajiban Suami dalam Islam
- Berikan mahar — itu adalah harta sah miliknya, bukan sekedar simbol.
- Sediakan nafkah: makanan, pakaian, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan, terlepas dari penghasilannya.
- Perlakukan dia dengan baik dan hormat — ini adalah tanda iman.
- Jangan desak dia untuk berbuat haram.
- Musyawarah dengan dia dalam hal-hal keluarga.
- Hormati kebutuhan, batasan, dan ruang pribadi dia.
- Lindungi kehormatan dia dari orang lain dan dari kata-katamu sendiri.
- Jangan ungkapkan masalah keluarga atau hal-hal intim pribadi.
- Jangan mengancam talaq saat ada konflik.
- Sediakan akomodasi terpisah jika dia memintanya (tanpa kerabat tinggal bersama mereka).
- Bantu dia mendapatkan pengetahuan agama yang penting.